Kang WALI PAIDI

Sruput kopinya

Wali Paidi terima undangan dari Kyai Mursyid untuk datang ke Pondoknya nanti hari Rabu ba’da Asar. Wali Paidi heran juga mendapat undangan itu padahal hari Rabu itu jauh dari waktu khaul abah Yai (abahnya Kyai Mursyid yang dulu wali Paidi kecil pernah mondok atau tepatnya ngacung disana) dan juga tidak mungkin kalau acara itu adalah acara kondangan walimatul uruz karena kalau yang demikian maka wali Paidi pasti diundang jauh hari sebelumnya, atau bahkan beliau dilibatkan dalam kepanitiaan.

Karena diundang ke Pondok maka wali Paidi berpakaian menyesuaikan adat Pondok. Beliau memakai sarung, baju koko lengan panjang warna krem, kopiyah hitam baru tanpa serban karena memang dia ndak punya serban, tak lupa minyak wangi ‘hajar aswad’ dan tasbih pemberian abah Yai.

Sampai di Pondok, wali Paidi clingak-clinguk memandangi keadaan pondok yang sudah banyak berubah dibanding ketika dia masih disini dulu. Hanya pintu gerbang yang tidak pernah diubah, tetap kecil dan jelek seperti dulu.
Tertulis di undangan, acara diadakan di ‘Aula pondok’ yang ternyata juga Masjid Pondok.

Setelah memberi salam wali Paidi masuk dan langsung disambut oleh Kyai Mursyid sendiri dan digelandang untuk duduk (tepatnya bersila) di depan berdampingan dengan Kyai Mursyid. Di depan mereka, telah duduk beberapa orang santri Thoriqot yang akan diwisuda. Rupanya ini adalah acara wisuda jama’ah Thoriqot yang sudah dinyatakan lulus dari Pondok ini.

Di sisi samping yang hampir memenuhi aula adalah santri-santri lain yang lagi belajar untuk hafidz Qur’an atau santri-santri yang sedang belajar ilmu Nahwu dan Shorof. Aula atau masjid itu tidak sumuk, karena sekarang sudah dipasang AC.

Setelah melakukan ritual wisuda sebagai mana biasanya, Kyai Mursyid memberikan wejangannya yang didengarkan dengan takdzim oleh para santri. Acara yang diprotokoleri sendiri oleh Kyai Mursyid ini tiba-tiba meminta dengan hormat dan sangat agar Almukarom H. Ali Firdaus untuk memberikan sepatah duapatah kata wejangan pada santri Thoriqot yang akan diwisuda. Entah ini dimaksudkan oleh Kyai Mursyid untuk menggoda wali Paidi atau ikhlas untuk minta petuah wali Paidi kami kurang tahu.

Tanpa basa-basi dan salam, wali Paidi membaca Sholawat Nabi serta ta’awut lantas mengutib Al Baqoroh ayat 32, berhenti sebentar sambil tetap memutar tasbih yang dia bawa dari rumah wali Paidi berfatwa :

“Jadi orang Thoriqot itu coba’annya berat, terutama nanti kalau do’anya mandhi (mustajabah)… oleh karena itu harus sering-sering memotong Ku Ku… sekian terima-kasih… mudah-mudahan manfaat” , wali Paidi menyerahkan mic kembali ke Kyai Mursyid. Tidak ada Salam dan tepuk tangan karena kebiasaannya memang tanpa tepuk tangan.

Banyak santri yang tampak manggut-manggut entah apa yang dipikirkan oleh mereka.
Wisuda di pesantren ini memang tanpa penyerahan Ijazah, karena ijazah telah ada di kepala dan hati masing-masing wisudawan.

Setelah membacakan daftar kelulusan Jama’ah Thorikot dari pondok itu yang nama Ali Firdaus tidak ada di dalamnya, Kyai Mursyid menutup acara dengan do’a kafaratul majlis, acara bubar dengan sendirinya yang didahului dengan salam-salaman dan santap sore di halaman masjid.

Kyai Mursyid menggandeng tangan wali Paidi menuju ruangan khusus kerjanya untuk minum kopi sambil menunggu adzan Magrib ;

“Kok disuruh sering-sering motong kuku itu maksudnya apa toh Di… mbok saya diterangkan isyaroh-isyaroh semacam itu”… pinta Kyai Mursyid sambil menawarkan rokok ke wali Paidi.

“Lha iya.. toh kang… supaya menjadi ikhlas orang kan harus mengikis habis keakuan… yang jadi penyakit itu kan… bapak ku… istri ku… anak ku… harta ku… jabatan ku… ide ku… padahal semuanya itu kan bukan miliknya toh kang, … jadi ‘ku’ ‘ku’ ‘ku’.. itu yang harus dikikis habis… pendek kata … Sesungguhnya Sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya karena Allah semata”… kata wali Paidi layaknya orang berkhobah.

“Iya.. pendeknya semua ‘ku’ itu harus dipotong, dibuang ditenggelamkan ke dalam fana’billah”.. tukas Kyai Mursyid sambil menyodorkan api ke wali Paidi.

Adzan Magrib berkumandang, beliau berdua tampaknya masih punya wudhu hingga bergegas ke aula tadi yang sekarang berfungsi jadi masjid. Setelah sholat magrib dan segala ubo rampenya selesai wali Paidi mohon pamit. Sebelum keluar pondok wali Paidi mampir ke koperasi pondok untuk membeli rokok dan iseng-iseng menanyakan alat potong kuku yang ternyata sudah habis diborong oleh santri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s